Nama : Mia Audina
NIM : 14510036
Kelas : KPI B
Mata Kuliah : Filsafat Umum
PENEMU JUMLAH HARI DALAM SATU TAHUN
Al-Battani adalah nama seorang ilmuwan yang berjasa
menemukan hitungan jumlah hari dalam setahun. Dia bernama lengkap Abu Abdullah Muhammad
bin Jabir bin Sanan Al-Harrani Ar-Raqqi Ash-Sha'ibi. Dia dipanggil dengan nama
Al-Battani sesuai dengan nama tempat kelahirannya, yaitu Battan. Sebagaimana
dia juga dipanggil dengan nama Ar-Raqqi diambil dari kata ar-raqqah, yaitu
tempat di dekat sungat Furat, di mana dia menghabiskan sebagian masa hidupnya.
Mengingat keunggulannya dalam bidang astronomi, dia juga mendapat panggilan
"Ptolemaeus Arab" karena kemiripannya dengan ilmuwan astronomi,
matematika, dan geografi, Claudius Ptolemaeus atau Ptolemi yang hidup pada abad
kedua Masehi
Al-Battani adalah salah seorang cucu ilmuwan Arab
terkemuka. Tsabit bin Qurah. Ia lahir pada tahun 858 M di dekat kota Battan,
Harran dekat Urfa , di Syria Atas Mesopotamia , yang
sekarang di kenal dengan Turki. Ayahnya adalah
seorang pembuat instrumen ilmiah terkenal. Ia dikenal sebagai ahli astronomi dan matematika
terbesar di dunia pada abad pertengahan. Al-Battani belajar astronomi dan
matematika dari ayahnya, Jabir Ibnu Sin'an. Ia
tinggal dan bekerja di ar-Raqqah ,
sebuah kota di utara pusat Suriah . Ibnu An-Nadim
menyebutkan dalam bukunya "Al-Fihrisat" bahwa Al-Battani memulai
perjalannya mengamati masalah-masalah astronomi sejak tahun 264 H (878). Dengan
demikian, berarti dia pernah tinggal dalam waktu yang lama di kota Ar-Raqqah
dan melakukan penelitian astronomi yang berhasil ditemukannya pada tahun 306 H
(918 M), sesuai yang disebutkan oleh Ibnu An-Nadim.
Selain itu, dia juga pernah tinggal lama di kota
Anthakiyyah di utara Syria, tempat dia membuat teropong bintang yang disebut
dengan "Teropong Al-Battani." Secara umum, masa hidup Al-Battani
adalah masa kejayaan ilmu astronomi Arab dan masa ditemukannya berbagai
penemuan ilmiah di Arab dalam bidang ini. Al-Battani memperdalam ilmu di kota
Raqqah, di tepi sungai Efrat selama sekitar 40 tahun. Dia memilih tempat itu karena beberapa keluarga
dari Harran telah pindah ke sana. Sebagian besar
waktunya dihabiskan untuk membuat pengamatan astronomi dan dalam menyusun data
yang mendasari karya besar, yang dikenal sebagai Kitab
al-Zij (Kitab Astronomi).
Pada akhir abad sembilan, Al-Battani pindah ke Samarra
untuk bekerja hingga meninggal dunia tahun 929 M. Al-Battani aktif sebagai seorang astronom
sampai sekitar tahun 918. Pada tahun 929 ia menemani sekelompok warga kota dari
al-Rakka, yang mungkin termasuk beberapa keturunannya sendiri, ke Baghdad dan meninggal dalam perjalanan pulang di Qasr al-JISS, dekat
kota Irak. Penuaan
merupakan faktor penyebabnya meninggal Al-Battani. Al-Battani berhasil
menghitung jumlah hari dalam setahun berdasarkan penghitungan waktu yang
digunakan bumi untuk mengelilingi matahari, yakni 365 hari, 5 jam, 46 menit,
dan 24 detik. Jadi, penentuan jumlah hari dalam setahun bukanlah asal-asalan
saja, melainkan berdasarkan perhitungan yang cermat dan matang.
Kita tidak bisa sembarangan menentukannya, karena
sistem kalenderium itu juga berguna untuk meramal atau menentukan musim. Perubahan
musim ditentukan oleh posisi matahari terhadap bumi. Pada bulan mei misalnya,
matahari berada di utara khatulistiwa. Angin bergerak dari selatan (yang
dingin) menuju utara (yang lebih panas) melewati gurun Australia yang kering.
Akibatnya, setiap bulan Mei, di Indonesia terjadi musim kemarau. Kalau
perhitungannya tidak tepat, peramalan musim juga keliru. Misalnya, pada bulan
mei, tidak selalu juga terjadi kemarau. Hasil perhitungan Al-Battani di atas
mendekati perhitungan menggunakan peralatan canggih yang digunakan para ilmuwan
di abad ini.
Sebagai ilmuwan astronomi, Al-Battani banyak menulis
buku tentang astronomi dan trigonometri, termasuk sistem perhitungan almanak
dan kalenderium seperti yang diulas di atas. Almanak yang diciptakan oleh
Al-Battani diakui merupakan sistem perhitungan astronomi yang paling akurat,
yang sampai kepada kita sejak abad pertengahan. Pada abad pertengahan,
orang-orang Eropa menggunakan sistem ini sampai abad pencerahan. Dalam pembukuan
Almanak, Al-Battani berkata "Ilmu astronomi merupakan bagian dari ilmu
dasar yang sangat bermanfaat. Melalui ilmu astronomi, manusia mengetahui
hal-hal penting.
Dilihat dari manfaat dan kegunaannya dalam kehidupan
manusia, astronomi menjadi ilmu yang sangat penting untuk diketahui". Pada
tahun 1899, di kota Roma dicetak sebuah buku berjudul Az-Zaujush Shabi li
Batani (Almanak versi Al-Battani) yang disunting oleh Carlo Nallino dari
manuskrip yang disimpan di perpustakaan Oskorial, Spanyol. Karya lain Al-Battani
yang terkenal adalah Syarh al-Makalat al-Arba'I li Batlamius. Karya ini berisi
uraian dan komentar tajam terhadap pemikiran Ptolemy yang tertuang dalam
"Tetrabilon" nya. Al-Battani mengubah teori Ptolemy, serta meralat
perhitungan orbit bulan dan beberapa planet.
Dia membuktikan bahwa orbit benda langit berbentuk
elips, dan membuktikan perubahan posisi matahari menjadi penyebab perubahan
musim. Ilmuwan Eropa, Duntho (1749 M), memanfaatkan penemuan Al-Battani tentang
orbit elips dari benda langit untuk memetakan pergerakan bulan. Sementara
penemuan Al-Battani dibidang trigonometri, termasuk konsep sinus, kosinus,
tangen, dan kotangen, masih digunakan hingga saat ini.
Penemuan Ilmiah Al-Battani
Al-Battani telah menciptakan berbagai penemuan ilmiah
dalam ilmu astronomi, disamping juga penemuannya dalam bidang matematika
(trigonometri berbentuk bola, aljabar, geometri), dan geografi.
Penemuannya di Bidang Ilmu Astronomi
1.
Di antara penemuan Al-Battani yang terpenting dalam
bidang astronomi adalah hasil penelitian yang benar dalam meneropong bintang
dan benda-benda langit. Hasil penelitian ini dianggap yang paling akurat yang
dilakukan oleh ilmuwan Arab, dan termasuk basil penelitian yang terpercaya
hingga pada abad ketujuh belas.
2.
Al-Battani berhasil memperbaiki nilai keseimbangan
pada musim panas dan musim dingin.
3.
Dia berhasil menghitung nilai kecondongan
bintang-bintang di siang hari dan mendapatkannya berada pada posisi 23 dan 35
derajat. Hasil penelitian modern menjelaskan kepada kita bahwa basil penelitian
Al-Battani tidak salah kecuali dalam hitungan satu menit saja. Kemudian dia
menghitung lamanya tahun Masehi dengan sangat teliti dan dengan tingkat
kesalahan yang sangat tipis, yaitu dua menit lebih dua puluh dua detik saja.
4.
Dia mengamati secara teliti terjadinya gerhana
matahari dan bulan, yang hasil pengamatannya dijadikan rujukan oleh orang-orang
Barat selama berabad-abad dalam menghitung kecepatan bulan ketika sedang
bergerak.
5.
Dia membuktikan kemungkinan terjadinya gerhana
matahari ketika terbit, dan dalam hal ini pendapatnya bertentangan dengan
pendapat Ptolemaeus.
6.
Dia banyak menemukan tempat-tempat bintang dan
mengoreksi pendapat sebagian ilmuwan tentang pergerakan bulan dan
planet-planet.
7.
Dia menyimpulkan teori "quwwatul asanid"
yang menjelaskan dan menafsirkan perkembangan bulan ketika terbit.
8.
Al-Battani menjelaskan pergerakan titik ekor bumi.
Penemuannya di Bidang Matematika Trigonometri
1.
Al-Battani melakukan perbaikan-perbaikan mendasar dan
memberikan solusi penting dalam masalah yang berhubungan dengan matematika
trigonometri berbentuk bola (spherical trigonometry), yaitu ilmu matematika
yang telah banyak nemberikan kontribusi bagi kemajuan ilmu astronomi.
2.
Al-Battani juga orang yang pertama kali mengganti kata
"ganjil" yang dipergunakan oleh Ptolemaeus dalam sinus trigonometri.
3.
Al-Battani banyak melakukan perbaikan dalam ilmu
aljabar untuk menghitung nilai sudut dengan prosentase antara itu dengan sinus
sempurnanya.
4.
Al-Battani adalah orang pertama kali yang menghitung
tabel matematika untuk mengetahui titik pada garis yang bengkok.
5.
Dia juga termasuk ilmuwan Arab yang pertama kali
menggunakan rumus-rumus untuk mempermudah menghitung dalam ilmu matematika.
Karya Al-Battani
1. "Az-Zaij
Ash-Shabi’” merupakan buku karangan Al-Battani yang paling terkenal.
2. “Risalah fi Tahqiqi
Aqdari Al-Ittishalat"
3. “Kitab Ma'rifati
Mathali'Al-Buruj fi ma Baina Arba' Al-Falak"
4. “Kitab Ta'dil
Al-Kawakib"
5. “Syarah Arba' Maqalat
li Bathlimus"
6. “Kutub wa Rasa'il fi
Ilmi Al-Jughrafiya"
Analisis dan Perbandingan terhadap teori Barat
Penetapan
jumlah hari dalam 1 tahun yakni 365 hari, 5 jam, 46 menit, dan 24 detik yang
dilakukan Al-Battani melalui perhitungan bumi mengelilingi matahari atau rotasi
bumi pada abad ke 9 M sampai abad ke 10 M. Teori rotasi bumi di temukan oleh
Nicolaus Copernicus seorang yang
berkebangsaan polandia pada abad ke 15 M dan di dukung oleh Galileo Galilei pada abad ke 16 M yang dianggap bertentangan
dengan ajaran kristen pada masa itu.
Dapat
disimpulkan bahwa Al-Battani menemukan jumlah hari dalam 1 tahun melalui
perhitungan rotasi bumi pada abad ke 9 M sampai abad ke 10 M sedangkan teori
rotasi bumi yang di temukan oleh Nicolaus Copernicus dan di dukung serta dikembangkan oleh Galileo
Galilei baru antara pada abad ke 15 M sampai 16 M.
Jadi
menurut pendapat saya jauh sebelum
Nicolaus Copernicus dan Galileo Galilei menemukan dan mengembangkan teori
rotasi bumi Al-Battani sudah memikirkan bahkan memahami tentang teori rotasi
bumi tersebut hal ini dapat di buktikan dengan penggunaan teori rotasi bumi
yang dipakainya pada perhitungan jumlah hari dalam 1 tahun. secara logika
berarti yang pertama menemukan dan mengenal teori rotasi bumi atau bumi
mengelilingi matahari adalah Al-Battani bukan Nicolaus copernicus ataupun Galileo
Galilei jika dilihat dari tahunnya.
Sumber :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar